KLATEN – Menghadapi musim penghujan, perhatian terhadap kondisi lingkungan Sungai Kerten di wilayah Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, kembali menjadi sorotan. Normalisasi dilakukan dengan mengangkat material tanah yang menumpuk di bagian tengah sungai sebagai langkah untuk membantu mengembalikan kelancaran fungsi aliran air.

Aksi sosial tersebut dilakukan Triyono, anggota DPRD, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya mengantisipasi potensi luapan sungai yang selama ini terjadi ketika hujan deras.

Menurut Triyono, normalisasi tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan sekali selesai. Kondisi sungai harus dipelihara secara berkelanjutan, terutama memasuki musim penghujan ketika debit air dari wilayah hulu atau kawasan pegunungan dapat meningkat dengan cepat.

“Normalisasi ini jangan hanya berhenti sampai pengerukan selesai. Sungai harus dipelihara secara berkelanjutan. Kalau dibiarkan kembali dangkal atau dipenuhi sampah, fungsi alirannya akan terganggu lagi,” ujar Triyono kepada awak media ( 17/9)

Ia menegaskan, sampah menjadi salah satu ancaman serius terhadap kelancaran aliran sungai. Sampah yang dibuang ke sungai dapat terbawa arus dan kemudian tersangkut pada material, vegetasi, maupun bagian sungai yang mengalami penyempitan atau pendangkalan.

Ketika hujan deras terjadi, tumpukan sampah tersebut berpotensi menjadi penyumbat aliran. Akibatnya, air dapat tertahan dan mencari jalur keluar ke area sekitar, termasuk lahan pertanian dan permukiman warga.

“Jangan sampai sungai yang sudah dinormalisasi kembali menjadi tempat pembuangan sampah. Sedikit demi sedikit sampah menumpuk, kemudian saat hujan deras aliran tersumbat. Dampaknya bukan hanya sungainya, tetapi bisa sampai ke sawah dan masyarakat,” tegasnya.

Kondisi tersebut menjadi penting diperhatikan karena Sungai Kerten menerima aliran air dari wilayah atas. Saat hujan dengan intensitas tinggi terjadi di kawasan hulu, debit air yang menuju wilayah Kerten dapat meningkat.

Salah satu kawasan yang selama ini menghadapi persoalan luapan berada di sekitar Pasar Menggah. Ketika sungai tidak mampu mengalirkan debit air secara optimal, air dapat meluber hingga ke persawahan warga.

Genangan yang berulang setiap musim penghujan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat kegiatan pertanian. Sawah yang tergenang dalam kondisi dan durasi tertentu dapat mengganggu proses pengolahan maupun penanaman.

Karena itu, Triyono mendorong adanya pemeliharaan rutin dan kesadaran bersama. Pemerintah, masyarakat, serta pihak terkait dinilai perlu memiliki perhatian yang sama terhadap kebersihan dan kondisi fisik sungai.

“Kalau hanya dinormalisasi tetapi setelah itu sampah kembali dibuang ke sungai, persoalannya akan berulang. Pemeliharaan harus dilakukan bersama dan berkelanjutan,” katanya.

Dalam proses normalisasi, material tanah yang dikeluarkan dari aliran sungai tidak diperjualbelikan. Masyarakat yang membutuhkan dipersilakan memanfaatkannya selama material masih tersedia, dengan ketentuan pengangkutan menggunakan armada sendiri.

“Bagi warga yang membutuhkan, selama materialnya masih ada silakan dimanfaatkan. Armada membawa sendiri dan gratis, tidak diperjualbelikan,” jelas Triyono.

Normalisasi dan pemeliharaan Sungai Kerten diharapkan tidak hanya menjadi langkah menghadapi musim penghujan tahun ini, tetapi menjadi bagian dari upaya jangka panjang menjaga fungsi sungai dan lingkungan.

Menjaga sungai, menurut Triyono, bukan sekadar mencegah banjir, tetapi juga menjaga lahan pertanian, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai.

( Tim)